“Ya ALLOH, aku meminta kepada-Mu dengan ilmu-Mu yang meliputi perkara yang ghaib dan kekuasaan-Mu terhadap para makhluk. Hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian itu baik bagiku. Ya ALLOH, aku meminta kepada-Mu rasa takut kepada-Mu baik di kala sembunyi maupun terang-terangan. Aku meminta kepada-Mu ucapan yang benar baik di kala marah maupun ridho. Aku meminta kepada-Mu kesederhanaan dalam keadaan fakir maupun kaya. Aku meminta kepada-Mu kenikmatan yang tidak akan sirna. Aku meminta kepada-Mu penyejuk mata yang tidak akan terputus. Aku meminta kepada-Mu kehidupan yang baik setelah kematian. Aku meminta kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu. Aku meminta kepada-Mu puncak kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, tanpa bencana yang memudhorotkan dan fitnah yang menyesatkan. Ya ALLOH, hiasilah kami dengan hiasan iman serta jadikanlah kami sebagai orang yang mendapatkan petunjuk dan menjalankannya.”
[Al-Musnad (no.18351). Diriwayatkan juga oleh An-Nasa-i (III/54), Ibnu Hibban (no.1971), Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (hlm.12), dan Al-Hakim (I/524) dengan sanad shohih]
– — –
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata, yang kurang lebih:
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan ALLOH, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan ALLOH) itu pasti datang …” [QS. Al-'Ankabuut: 5]
“Barangsiapa yang cinta untuk bertemu dengan ALLOH, maka ALLOH pun cinta untuk bertemu dengannya.” [HR. Bukhori (no.2443) dan Muslim (no.2683)]
Tatkala ALLOH mengetahui besarnya kerinduan para wali-Nya untuk bertemu dengan-Nya, bahwasanya hati-hati mereka tidak mendapatkan petunjuk tanpa pertemuan dengan-Nya, maka ALLOH pun menetapkan janji dan waktu agar mereka dapat bertemu dengan-Nya, tidak lain supaya jiwa-jiwa mereka tenteram dengan perjumpaan itu.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik …” [QS. An-Nahl: 97]
ALLOH Subhaanahu wa Ta’ala memberikan jaminan kepada setiap orang yang beramal sholih dengan menganugerahkan kehidupan yang baik. Sesungguhnya ALLOH senantiasa menepati dan tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Maka, adakah kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan seseorang yang seluruh hasratnya terkumpul menjadi satu dalam keridhoan ALLOH? Hatinya tidak bercabang, hanya dihadapkan kepada ALLOH. Keinginan dan pikirannya yang sebelumnya terbagi-bagi, yang pada setiap lembah terdapat cabangnya, kini bergabung kembali, yaitu berdzikir kepada Dzat yang paling dicintai lagi Mahatinggi, mencintai-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan merasa tenteram dekat dengan-Nya, sebab Dia-lah yang berkuasa atasnya. Itulah yang menjadi poros hasratnya, keinginannya, tujuannya, bahkan lintasan hatinya. Jika dia diam, maka diamnya sejalan dengan perintah ALLOH. Jika dia bicara, maka bicaranya sejalan dengan perintah ALLOH. Jika mendengar, maka dia mendengar dengan kebersamaan ALLOH. Begitu juga ketika dia melihat, mengambil, berjalan, bergerak, diam, hidup, mati, dan dibangkitkan; semua itu dilakukan karena ALLOH.
Disebutkan dalam Shohiihul Bukhori (no. 6502), dari Nabi Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam, beliau meriwayatkan dari Robb-nya Tabaaroka wa Ta’ala, bahwasanya ALLOH Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
“… Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, melainkan dengan mengerjakan perkara-perkara yang wajib. Hamba-Ku tersebut pun senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara-perkara sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku bersama pendengarannya, yang ia mendengar dengannya; penglihatannya, yang ia melihat dengannya; tangannya, yang ia mengambil dengannya; dan kakinya, yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Tidaklah Aku ragu dalam setiap perkara yang Kulakukan seperti halnya keraguan-Ku untuk mencabut nyawa hamba-Ku yang mukmin, karena dia tidak menyukai kematian. Sementara Aku tidak ingin menyakitinya, namun kematian itu merupakan suatu keharusan baginya.”
ALLOH Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa menjalankan perkara-perkara wajib merupakan hal yang paling dicintai-Nya, yang dengannya para hamba-Nya mendekatkan diri kepada-Nya. Yang dicintai selanjutnya adalah perkara-perkara yang sunnah. Orang yang dicintai itu senantiasa memperbanyak amal-amal sunnah sehingga dia menjadi orang yang semakin dicintai ALLOH. Jika dia telah menjadi orang yang dicintai ALLOH, maka kecintaan ALLOH tersebut menghadirkan kecintaan lain dalam dirinya kepada Robb-nya itu, tentu saja di atas kecintaan yang pertama. Kecintaan ini menyibukkan hatinya dari memikirkan dan berhasrat kepada Dzat yang dicintainya. Cinta tersebut menguasai hatinya sehingga tidak tersisa sedikit kelapangan pun untuk selain Dzat yang dicintainya. Dengan demikian, jadilah dzikir kepada-Nya, mencintai-Nya, dan menyebut sifat-Nya yang Mahatinggi sebagai pengatur kendali hatinya dan yang berkuasa atas ruhnya, sebagaimana penguasaan Dzat yang dicintai terhadap orang yang jujur mencintai-Nya, yang seluruh kekuatan cinta kepada-Nya telah terkumpul dalam dirinya.
Hadits di atas mengkhususkan penyebutan pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki karena anggota badan tersebut digunakan sebagai sarana untuk mengetahui dan mengerjakan perbuatan. Pendengaran dan penglihatan mendatangkan keinginan dan kebencian kepada hati, serta menimbulkan rasa cinta dan benci, sebelum akhirnya digunakan tangan dan kaki. Jika pendengaran dan penglihatan hamba itu bersama ALLOH, maka terpeliharalah sarana pengetahuannya sehingga dia terjaga dalam kecintaan dan kebencian, hingga dia akan terjaga dalam memutuskan sesuatu dan dalam bertindak.
Hanya disebutkan “pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki”, tidak disebutkan mengenai “lisan”, sebab pendengaran terkadang terjadi dengan kehendak dan terkadang terjadi di luar kehendak. Begitu juga dengan penglihatan, tangan, dan kaki dalam gerakan refleks. Adapun gerakan lisan tidak terjadi (bergerak) kecuali dengan adanya maksud (keinginan) dan kehendak. Seorang hamba terkadang tidak menggerakkannya selain pada perkara yang diperintahkan. Di samping itu, pergerakan lisan terhadap hati lebih sempurna daripada pergerakan anggota tubuh lainnya, karena lisan merupakan penerjemah dan utusan hati.
Jika seorang hamba bersama ALLOH, niscaya ringanlah seluruh beban dan ketakutan pun berubah menjadi keamanan. Dengan kebersamaan dan bantuan ALLOH, menjadi mudahlah seluruh kesulitan, mendekatlah semua yang menjauh; dan hilanglah kegundahan, problematika, serta kesedihan. Maka hati seorang hamba pada saat itu seperti ikan, yang jika terpisah dari air akan menggelepar-gelepar, selama tidak dikembalikan lagi ke dalam air.
Ketika seorang hamba telah memenuhi cinta terhadap Robb-nya, ALLOH pasti akan memenuhi segala kebutuhan dan keinginan hamba tersebut.