SURGA DUNIA itu adalah R I D H O … ^ ^
Sudahkah engkau merasakannya?
——————–
Kutipan dari buku Tazkiyatun Nafs (Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salafushshalih) yang diterbitkan oleh Pustaka Arafah, Solo:
Sehubungan dengan apa yang tidak disukainya, seorang hamba bisa menempati salah satu dari dua derajat ini; ridho atau sabar. Ridho adalah yang lebih utama. Adapun sabar, hukumnya wajib bagi setiap insan yang beriman.
Mereka yang ridho adalah yang dapat menghayati hikmah dan kebaikan Dzat yang mendatangkan ujian. Mereka tidak berburuk sangka kepada-Nya. Di saat yang lain menghayati betapa Dia Maha Agung, Maha Mulia, dan Maha Sempurna, ia terhanyut dalam persaksiannya atas semua itu, sehingga ia tidak lagi merasakan derita. Hanya mereka yang benar-benar berma’rifah dan bermahabbah saja yang dapat mencapai tingkatan ini. Bahkan, mereka dapat menikmati musibah yang menimpa, karena mereka tahu bahwa musibah itu datang dari Dzat yang dicintainya.
Sabar berbeda dengan ridho. Sabar adalah menahan diri dari amarah dan kekesalan ketika merasa sakit sambil berharap derita itu segera hilang. Sementara ridho adalah berlapang dada atas ketetapan Alloh ‘Azza wa Jalla dan membiarkan keberadaan rasa sakit, walaupun ia merasakannya. Keridhoannya meringankan deritanya. Karena hatinya dipenuhi oleh ruh yakin dan ma’rifah. Bila ridho semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita.
Anas bin Malik meriwayatkan dari Nabi Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya jika Alloh mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridho, niscaya ia akan mendapatkan ridho-Nya. Barangsiapa yang kesal dan benci, niscaya ia akan mendapatkan murka-Nya.” [HR. At-Tirmidziy, dalam Az-Zuhd VII/77. Beliau berkata: “Hadits Hasan Gharib.” As-Suyuthiy menghasankannya dalam Al-Jaami’ Ash-Shaghiir II/459]
Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla –dengan keadilan ilmu-Nya– menjadikan kesejahteraan dan kegembiraan pada yakin dan ridho, serta menjadikan kesusahan dan kesedihan pada keraguan, kekesalan, dan kemurkaan.”
Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: “Barangsiapa beriman kepada Alloh, niscaya Dia akan menunjuki hatinya.” [QS. At-Taghoobuun : 11]
Berkenaan dengan ayat tersebut di atas, ‘Alqomah berkata: “Ini tentang musibah yang menimpa seseorang yang mengerti bahwa musibah itu datang dari Alloh, lalu pasrah kepada Alloh dan ridho.”
Firman Alloh Subhaanahu wa Ta’ala: “Maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” [QS. An-Nahl : 97]
Abu Mu’awiyah Al-Aswar menjelaskan maksud kehidupan yang baik adalah ridho dan qona’ah.
Suatu ketika Ali bin Abi Tholib mendapati ‘Ady bin Hatim tengah bersedih. Beliau bertanya, “Mengapa kamu bermuram durja?” ‘Ady menjawab, “Apa tidak boleh, sedangkan dua anakku baru saja terbunuh, pun mataku baru saja tercukil?” Ali bertutur, “Wahai ‘Ady, barangsiapa ridho terhadap ketetapan Alloh, maka sesungguhnya ketetapan Alloh tetap terjadi, dan dia mendapat pahala. Barangsiapa tidak ridho terhadap ketetapan-Nya, sesungguhnya ketetapan-Nya tetap terjadi dan amalan orang itu pun terhapus.”
Abu Darda’ mengunjungi seseorang yang menjelang ajal sambil memuji Alloh ‘Azza wa Jalla. Abu Darda’ berujar, “Anda benar. Sesungguhnya jika Alloh ‘Azza wa Jalla menetapkan sesuatu, Dia senang jika diridhoi.”
Hasan Al-Bashri berkata, “Barangsiapa ridho terhadap bagiannya, Alloh akan meluaskan dan memberkahinya. Begitu pula sebaliknya.”
Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Aku tidak lagi memiliki kebahagiaan selain menerima apa yang ditakdirkan bagiku.” Beliau pernah juga ditanya, “Apa yang paling Anda senangi?” Beliau menjawab, “Semua yang ditetapkan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.”
Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ridho adalah pintu Alloh yang terbesar, surga dunia, dan tempat istirahatnya para ahli ibadah.”
Sebagian ulama berkata, “Di akhirat nanti, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh orang-orang yang ridho kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dalam segala situasi. Maka barangsiapa dianugerahi ridho, sungguh ia telah mendapatkan derajat yang paling utama.”
Suatu pagi seorang Arab Badui mendapati banyak untanya mati. Berkatalah ia, “Tidak! Demi Alloh –yang aku adalah hamba-Nya–, kalaulah bukan karena kedengkian orang-orang yang dengki, niscaya aku tidak akan senang menerima cobaan pada unta-untaku ini. Juga terhadap tidak terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan Alloh.”