Maka Ke Mana Aku Harus Mencari?

 

Jika penyembuh kerinduan adalah bertemu dengan yang kucintai,
jika penyembuh sakit adalah mendapatkan apa yang kuingini,
maka ke mana aku harus mencari?

——————–

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata, yang kurang lebih::

Masing-masing dari “tindakan” dan “tidak adanya tindakan” yang dilakukan karena pilihan dan kesadaran merupakan perkara yang hanya dikedepankan oleh orang yang hidup. Tujuannya ialah memperoleh manfaat yang dengannya seseorang merasakan kelezatan atau untuk menghilangkan rasa sakit yang dengannya dia mendapatkan kesembuhan. Oleh karena itu, secara etimologi dikatakan: “Sembuhlah dadanya, atau sembuhlah hatinya.”

Seorang penyair berkata:
Ia adalah penyembuh sakitku jika aku mendapatkannya,
meskipun tidak ada obat penyakit yang dihasilkannya.

Demikianlah tuntutan yang dikedepankan orang yang berakal, bahkan binatang ternak sekalipun. Sayangnya, mayoritas manusia benar-benar salah persepsi dalam memahami hal itu. Mereka ingin mendapatkan kelezatan dengan perkara yang akan mendatangkan kepedihan yang sangat. Mereka menyakiti diri sendiri, tetapi tetap merasa tengah menghibur hatinya. Mereka menyembuhkan hati dengan perkara yang selanjutnya justru mendatangkan puncak penyakit.

Seperti itulah keadaan orang-orang yang berpikiran pendek dan tidak mempedulikan dampak perbuatannya. Padahal, keistimewaan akal terletak pada kemampuan memperkirakan atau memprediksi akibat yang akan terjadi. Manusia yang paling berakal adalah orang yang mengedepankan kelezatan dan kesenangan yang abadi dibandingkan kesenangan yang singkat, fana, dan terputus. Sebaliknya, orang yang paling bodoh adalah orang yang menjual kenikmatan yang abadi, kehidupan yang kekal, dan kelezatan yang agung, yang sama sekali tidak ada suatu kekurangan pun di dalamnya, dengan suatu kelezatan yang terputus, singkat, fana, dan tercemari oleh kepedihan dan kekhawatiran.

Sebagian ulama berkata: “Aku memikirkan tindakan orang-orang berakal. Aku pun mendapati bahwa seluruhnya berusaha menggapai satu tujuan meskipun cara mereka untuk mendapatkannya berbeda-beda. Aku melihat semuanya berusaha mengusir kegundahan dan kegelisahan dari diri mereka. Ada yang dengan cara makan dan minum, ada yang dengan berdagang dan bekerja, ada yang dengan menikah, ada yang dengan mendengarkan musik dan nyanyian, ada yang dengan permainan dan perkara yang sia-sia.

Atas dasar itu, aku menyimpulkan bahwa tujuan mereka itu sesuai dengan tuntutan orang-orang yang berakal. Hanya saja, semua jalan itu tidak akan mengantarkan mereka untuk meraihnya, bahkan mayoritas justru membawa mereka sampai pada lawan dari tuntutan tersebut.

Aku tidak melihat satu jalan pun dari jalan-jalan tadi yang mengantarkan pada tujuan, kecuali dengan menghadap Alloh, bermuamalah dengan-Nya, dan mendahulukan ridho-Nya atas segala sesuatu. Orang yang menempuh jalan tersebut (mendahulukan ridho Alloh), meskipun kehilangan bagiannya di dunia, niscaya akan mendapatkan bagian yang tinggi dan tidak akan pernah hilang. Apabila seorang hamba benar-benar mendapatkannya, berarti dia telah mendapatkan segala sesuatu. Begitu juga sebaliknya, jika hamba itu kehilangannya (tersesat), berarti dia telah kehilangan segala sesuatu. Dengan kata lain, orang yang mendapatkan bagiannya di dunia saja tadi telah mendapatkan bagian yang paling buruk. Sungguh, tidak ada jalan lain yang lebih bermanfaat bagi seorang selain jalan ini. Tidak ada pula alternatif lain yang dapat membuatnya sampai pada kelezatan, kesenangan, serta kebahagiaan.

Wabillaahit taufiiq.”

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.